MAKALAH
MASALAH
SOSIAL DAN BUDAYA
Dosen pembimbing:
Nama kelompok:
1.
Munis tamah
2.
Laelatur rofiah
3.
Retno SN
4.
Anik maslukah
5.
Anis marsela
AKADEMI KESEHATAN RAJEKWESI BOJONEGORE
PRODI DIII KEBIDANAN
2012
KATA PENGANTAR
Puji syukur saya penjatkan kehadirat
Alloh SWT, yang atas rahmat-Nya maka saya dapat menyelesaikan penyusunan
makalah yang berjudul “Masalah Budaya dan Sosial” ini.
Penulisan makalah adalah merupakan
salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan tugas mata Kuliah Ilmu
Sosial Budaya Dasar.
Dalam Penulisan makalah ini saya
merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun
materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki saya sendiri. Untuk itu kritik
dan saran dari semua pihak sangat saya harapkan demi penyempurnaan pembuatan
makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini saya
menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang
membantu dalam menyelesaikan penelitian ini yang menyangkut masalah sosial dan
budaya yang ada di kampung halaman saya sendiri.
Dengan begitu saya harap semoga
Allah memberikan imbalan yang setimpal pada mereka yang telah memberikan
bantuan, dan dapat menjadikan semua bantuan ini sebagai ibadah, Amiin Yaa
Robbal ‘Alamiin.
BAB I
PENDAHULUAN
PENGANTAR ILMU SOSIAL DASAR DAN BUDAYA
Hakikat dan ruang lingkup ilmu
sosial budaya dasar
Ilmu sosial dasar (ISD) membicarakan hubungan timbal balik antara manusia dengan
lingkungannya.
Hubungan ini dapat diwujudkan kenyataan sosial dan kenyataan sosial inilah yang
menjadi titik perhatiannya. Dengan demikian ilmu sosial dasar memberikan
pengetahuan umum dan pengetahuan dasar tentang konsep-konsep yang dikembangkan
untuk melengkapi gejala-gejala sosial agar daya tanggap, persepsi, dan
penalaran kita dalam menghadapi lingkungan sosial. Sedangkan budaya dasar
sendiri adalah pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang
dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan.
Ruang
lingkup ilmu sosial budaya dasar
- Kenyataan-kenyataan sosial yang ada di masyarakat
- Konsep-konsep sosial
- Individu, keluarga, dan masyarakat
Ilmu
sosial dasar sebagai mata kuliah berkehidupan masyarakat
Dengan mempelajari ilmu sosial dasar untuk membantu meningkatkan kepekaan
mahasiswa berkenaan dengan lingkungan alamiah
di sekitarnya.
Pengertian tujuan ilmu sosial dasar dan budaya dasar
Usaha yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum
tentang
konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji gejala-gejala sosial agar daya
tanggap, persepsi, dan penalaran dalam menghadapi lingkungan sosial dapat di
tingkatkan.Ilmu budaya dasar sendiri untuk memperluas wawasan pemikiran serta
kemampuan kritikalnya terhadap nilai-nilai budaya.
Perbedaan ISD dengan budaya dasar
Ilmu sosial dasar mempelajari pola perilaku masyarakat
sedangkan budaya dasar sendiri untuk menambah wawasan nilai-nilai budaya itu
sendiri.
Ilmu sosial budaya dasar sebagai alternatif pemecahan
masalah sosial budaya
Dengan mempelajari ilmu sosial budaya dasar kita juga dapat melakukan pemecahan
masalah
sosial budaya yang terjadi di sekitar kita, dikarenakan di dalam diri kita
sudah mengenal nilai-nilai
tersebut.
Pengertian
Masalah Budaya dan Sosial
1. Masalah
budaya adalah segala sistem atau tata nilai
atau sikap mental, pola pikir, pola tingkah laku dalam berbagai aspek kehidupan
yang tidak memuaskan bagi masyarakat secara keseluruhan, atau dapat dikatakan
bahwa masalah budaya adalah tata nilai yang daat menimbulkan krisis-krisis
kemasayrakatan yang akan menyebabkan “
dehumanisasi “ atau terjadi
pengurungan terhadap seseorang.
2.
Menurut Soerjono Soekanto masalah sosial adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau
masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. Jika terjadi bentrokan
antara unsur-unsur yang ada dapat menimbulkan gangguan hubungan sosial seperti
kegoyahan dalam kehidupan kelompok atau masyarakat.
3.
Masalah Sosial adalah
suatu kondisi yang terlahir dari sebuah keadaan masyarakat yang tidak ideal.
Atinya , selama dalam suatu masyarakat yang tidak terpenuhi secara merata, maka
masalah social akan selalu timbul. Dalam kehidupan masyarakat yang heterogen,
seperti Negara kita ini.
Masalah sosial muncul akibat terjadinya perbedaan yang mencolok
antara nilai dalam masyarakat dengan realita yang ada. Yang dapat menjadi
sumber masalah sosial yaitu seperti proses sosial dan bencana alam. Adanya
masalah sosial dalam masyarakat ditetapkan oleh lembaga yang memiliki
kewenangan khusus seperti tokoh masyarakat, pemerintah, organisasi sosial, musyawarah
masyarakat, dan lain sebagainya.
Masalah
sosial dapat dikategorikan menjadi 4 (empat) jenis faktor, yakni antara lain :
1. Faktor Ekonomi : Kemiskinan, pengangguran, dll.
2. Faktor Budaya : Perceraian, kenakalan remaja, dll.
3. Faktor Biologis : Penyakit menular, keracunan makanan, dsb.
4. Faktor Psikologis : penyakit syaraf, aliran sesat, dsb.
Dan
sedangkan menurut Stark Masalah
sosial (1975) terbagi menjadi 3 macam yaitu :
1.Konflik dan kesenjangan, seperti : kemiskinan, kesenjangan, konflik antar kelompok,
pelecehan
seksual dan masalah lingkungan.
2.Perilaku menyimpang, seperti : kecanduan obat terlarang, gangguan
mental, kejahatan
kenakalan remaja dan
kekerasan pergaulan.
3.Perkembangan manusia, seperti : masalah keluarga, usia lanjut,
kependudukan
(seperti urbanisasi) dan
kesehatan seksual.
Keberadaan masalah social bisa
dilihat dengan melakukan beberapa proses dan tahapan analitis. Tahapan analitis
ini dilakukan dengan dengan melakukan diagnosis. Adapun proses pendiagnosisan tersebut
dapat dilakukan dengan 2 cara pendekatan.
2 Cara Pendekatan yaitu :
a. Person Blame Approach
yaitu pendekatan untuk memahami masalah social yang berada pada level individu.
Artinya, yang menjadi unit analisa utamanya ialah si individu sendiri. Dengan
begini kita bisa mengetahui penyebab terjadinya masalah social pada level
individu. Biasanya, penyebab masalah ini berupa kondisi fisik maupun psikis
dari tiap individu.
b. System Blame Approach yaitu
merupakan sebuah sistem pendekatan yang digunakan dalam masyarakat sebagai unit
analisa utamanya.
Jadi Kesimpulannya masalah sosial
ini bisa muncul karena adanya “kesalahan” individu dan “kesalahan” system dalam
suatu masyarakat .
BAB II
PEMBAHASAN
Tawuran merupakan
masalah sosial yang ada di masyarakat baik itu diperkotaan atau di pedesaan
sekalipun. Banyak sekali kerugian yang diakibatkan dari tawuran tersebut
seperti banyak terjadi kerusakan, rasa tidak aman, kematian dan sebagainya. Namun
tetap saja banyak pelaku tawuran yang seakan tidak peduli bahkan merasa bahwa
tawuran merupakan jalan keluar untuk mengatasi setiap masalah.
Tawuran juga
bisa dikatakan sebagai ketidakmampuan seseorang dalam melakukan transmisi
budaya juga dapat menyebabkan permasalahan sosial. Cohen dalam bukunya “Delinquent
Boys : The Culture of the Gang” (1955) memaparkan hasil penelitiannya. Ia
memperlihatkan bahwa anak-anak kelas pekerja mungkin mengalami “anomie” di
sekolah lapisan menengah sehingga mereka membentuk budaya yang anti nilai-nilai
menengah. Melalui asosiasi diferensial, mereka meneruskan seperangkat norma
yang dibutuhkan melawan norma-norma yang sah pada saat mempertahankan status
dalam ‘gang’nya.
Kita Sebagai
bagian dari masyarakat Indonesia sebenarnya bisa berperan dalam usaha
mengendalikan masalah sosial seperti tawuran yang sering terjadi di tengah
masyarakat.
Pengendalian (solusi) dapat dilakukan dengan pendekatan
sebagai pihak ketiga yang menegahi masalah tersebut atau pihak yang netral
tidak memihak. Peran ini setidaknya bisa diterima secara rasional, karena tidak
memihak kepada kedua pihak yang bertikai. Peran sebagai pihak ketiga atau
mediator adalah bentuk pengendalian secara kultural.
Pengendalian ini
berusaha untuk mengendalikan setiap individu atau kelompok untuk “back to
habbits”, artinya mengembalikan kelompok yang bertikai kepada norma-norma yang
berlaku di daerahnya.
“Back to
habbits” adalah tahap pertama dalam mengupayakan pengendalian masyarakat yang
bertikai. Hal ini penting, karena sebelum kita melangkah ke tahap selanjutnya,
setiap kelompok harus menyadari terlebih dahulu bahwa diantara mereka terjadi
situasi konflik yang melanggar norma-norma yang berlaku. Kemudian, tahap
selanjutnya adalah bagaimana kita bisa melakukan pengarahan, pembinaan, atau
bimbingan terhadap masyarakat.
Seperti contoh
masalah tawuran yang ada di kampung halaman saya, yang dimana ada sebagian
pemuda / remaja yang saling memiliki musuh ataupun dendam dikarenakan suatu hal
sepele ataupun itu yang tidak bisa di selesaikan secara tangan bersih.
Tawuran ini bisa
terjadi dikarenakan sikap atau perilaku mereka yang memang kurang kepeduliannya
terhadap penyelesaian suatu masalah yang terjadi diantara mereka. Namun memang
melihat dari segi akademis mereka ini umumnya hanya bersekolah sampai SMP,
dikarenakan tidak mampuannya ekonomi keluarga mereka untuk mensekolahkan mereka
ke jenjang lebih tinggi.
Jadi seperti
pemecahan ato solusi yang sempat saya singgung diatas yaitu dengan cara
pendekatan ini, diharapkan bisa merubah pola pikir seseorang. Setidaknya dari
lingkungan keluarga bisa memberikan pengertian kepada anak-anak mereka , bahwa
menyelesaikan masalah dengan masalah itu tidak akan ada ujungnya. Maka dari itu
keluarga disini bisa sebagai mediator bagi seseorang.
Mengingat pula
keluarga itu adalah lingkungan pertama yang dimana suatu karakter seseorang
bisa terbangun, apabila suatu keluarga mengajarkan kepada anaknya secara baik
maka karakter yang akan tumbuh dalam anak tersebut juga akan positif, begitu
juga sebaliknya.
Memang tidak
bisa dipungkiri faktor yang bisa mempengaruhi pertumbuhan suatu karakter
seseorang itu bukanlah hanya dari keluarga, tapi setidaknya keluarga itu harus
bisa menjadi peran utama dalam character building ini.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Sesuai
dengan paparan tadi, maka masalah sosial dan budaya ialah suatu keadaan yang
tidak normal antara unsur budaya dan masyarakat, sehingga timbulnya suatu
masalah yang bisa mengakibatkan kerugian ataupun gangguan, baik terhadap suatu
individu ataupun khalayak umum.
Adapun faktor yang menjadi penyebab masalah
sosial dan budaya bisa dikarenakan ekonomi, budaya, biologis, psikologis.
Kemudian terdapat 2 cara yang bisa digunakan untuk melihat apakah ada atau
tidaknya suatu masalah sosial dan budaya dengan cara Person Blame Approach dan
System Blame Approach.
Suatu masalah sosial
membutuhkan mediator yang dimana mediator ini bisa menjadi penengah bagi
individu ataupun kelompok yang memang memiliki suatu masalah sosial.
Demikian
makalah ini saya buat, bilamana ada kesalahan ataupun kekurangan mohon
dimaafkan, saran dan kritik yang membangun saya harapkan untuk menjadi
penilaian dalam pembuatan makalah berikutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar